Irawati

       Durban

Usia panjang adalah berkah dari Allah Maha Pencipta yang tidak diterima oleh semua orang. Karena itu harus diisi agar berarti. Berawal dari usia yang masih sangat muda, 14 tahun, Irawati Jogasuria atau Irawati Durban Ardjo, telah menjadi seorang duta seni tari Sunda ke mancanegara yang dikirim Presiden Soekarno. Kemudian dia menjadi penari Istana Negara untuk 4 Presiden, dan melanglang buana dalam berbagai kesempatan misi kesenian negara dan swasta.


Aktivitasnya dalam dunia tari Sunda tidak pernah putus sejenak pun, karena sejak tahun 1968 ia telah menjadi pengajar di lembaga formal tari: KORI yang sekarang menjadi STSI. Empat tahun lalu ia pensiun, namun perkumpulan tari Pusbitari DC atau Kelompok Seniman Pusbitari yang didirikannya tahun 1986 telah berkembang menjadi dua studio dan dikelolanya bersama para asisten.


Ilmu seni rupa yang didapatnya sebagai lulusan Arsitektur Interior dari ITB, sangat membantunya dalam berkarya, baik karya tari, dramatari, maupun kostum dan sebagai penyelenggara pergelaran besar sejak tahun 1977. Salah satu karya tarinya yang ditata tahun 1965 adalah TARI MERAK dengan kostumnya sebagai karya seorang senirupawan, telah menjadi ikon tari Sunda Bandung/Jawa Barat.


Kekuatiran atas hilangnya bentuk seni tari Sunda klasik, selain membuahkan banyak tarian anak-anak, ia pun menulis banyak buku tentang tari Sunda, tuntunan belajar dan sejarahnya yang diterbitkan oleh Pusbitari Press, bagian dari Yayasan Pusat Bina Tari yang didirikan Irawati tahun 2009. Yayasan ini mempunyai tiga cabang kegiatan, yaitu: Pusbitari DC, Pusbitari Press dan Pusbitari Pro.


Itulah kiprah seorang arsitek interior yang meninggalkan profesinya yang 'lebih menjanjikan' dalam kesempatan, kedudukan dan keuangan, karena cinta dan kekuatirannya akan eksistensi seni tari Sunda, khususnya tari klasik di Jawa Barat.